permasalahan haid (menstruasi ) pada wanita

Diposkan oleh Bany adam on Minggu, 23 September 2012


          Haid menurut bahasa artinya ialah mengalir. Adapun menurut istilah Syara’, yang dinamakan haid ialah darah yang kebiasaan keluar dari farji (kemaluan) seorang wanita yang telah berusia sembilan tahun,  bukan karena melahirkan, dalam keadaan sehat dan warnanya merah semu hitam menghanguskan (Fathul Qarib:10).

Dasar Hukum Haid
          Adapun dasar hukum Haid adalah firman Allah Subhanahu wa Ta‘ala dalam Alqur’an sebagai berikut:
ويسئلـونـك عن المحـيض قل هو اذ ى فاعتزلـوا النساء فى المحـيض ولا تفربوهن حتى يـطهرن فإذ ا طهرن فأتـوهن من حيث أمركم الله أن الله يحب التوابـين ويحب           المتطهرين  (البقرة : 222).                                                                                                             
                “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran.” Oleh karena itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati   mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang di perintahkan Allah kepada mu> Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat, dan menyukai orang-orang yang mensucikan.” (QS. Al-Baqarah: 222).              
Dan hadist Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi wa Sallam Sebagai berikut:
أن هذاأمرا كتبه الله على بنات أدم .(رواه البخارى ومسلم عن عائشة ).
“Sesungguhnya haid ini yang telah menetapkan Allah atas anak-anak putri  Nabi Adam As.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Ra.).

Nama-Nama Haid
          Penyebutan nama haid menurut ulama Fuqaha terdapat 15 nama adalah sebagai berikut:
1- حيض   2- محيض  3-  محاض  4-  طمث 5-  إكبار  6-  طمس   7-  عراك   8-  فراك     9-  اذى    10-  ضحك    11-  درس    12-  دراس   13 -  نفاس   14-  قرء    15-  إعصار .                                                                                                                                                        
Binatang Yang Mengalami Haid
          Adapun hayawan atau binatang yang mengalami haid adalah delapan macam,  yaitu sebagai berikut:
1.  Orang wanita
2.  Binatang kelawar
3.  Binatang dlabu’ atau kera
4.  Binatang kelinci (Jawa: mermut)
5.  Binatang unta
6.  Binatang cecak
7.  Binatang kuda
8.  Binatang anjing. 
Akan tetapi selain orang wanita, binatang-binatang tersebut haidnya tidak tertentu (Bujairami ala Al Khatib: 1/300).

Tanda-Tanda Balig Bagi Wanita
          Tanda-tanda balig bagi seorang anak wanita terdapat lima macam. Apabila salah satu dari lima perkara terdapat padanya, maka dihukumi sudah balig, ialah sebagai berikut:
1.  Sudah sampai umur 15 tahun Qamariyah (penanggalan bulan).
2.  Keluar air mani dari kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah.
3.  Keluar darah Haid setelah umur 9 tahun Qamariyah Taqriban, ya-itu kira-kira atau kurang  sedikit dari 15 hari, walaupun hanya sebentar (Kasyifatu al Syaja: 16).
4.  Keluar bulu kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah (Tabyinal Ishlah: 157).
5.  Dan kedua buah dadanya sudah menonjol ke depan secara jelas (Bidayatul Ummat:    )

Tanda-Tanda Balig Bagi Lelaki
Adapun tanda-tanda balig bagi seorang anak lelaki sebanyak empat perkara. Apabila didapati pada seorang anak lelaki salah satu dari empat perkara, maka anak tersebut dihukumi sudah berumur balig, yaitu sebagai berikut:
1.  Sudah sampai umum 15 tahun Qamariyah (penanggalan bulan).
2.  Keluar air mani dari kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah.
3.  Keluar bulu kemaluan setelah umur 9 tahun Qamariyah.
     (Tabyinal Ishlah: 157).

Permulaan Haid Bagi Wanita
           Usia paling muda waktu keluar darah haid bagi seorang anak wanita, ialah berumur 9 tahun Qamariyah Taqriban (kira-kira). Adapun pengertian taqriban atau kira-kira ialah, apabila seorang anak wanita yang cukup umur 9 tahun kurang 16 hari dan malamnya ke atas (waktu yang cukup digunakan paling sedikitnya haid dan paling sedikitnya suci), mengeluarkan darah, maka tidak dihukumi haid, tetapi dihukumi darah istihadlah atau darah rusak (Fathul Qarib pada Hamisy Al Bajuri:1/112 dan Abyanal Hawaij: 11/268)
          Adapun pada waktu mengeluarkan darah seorang wanita,  sudah berusia 9 tahun kurang dibawahnya 16 hari dan malam (waktu yang     tidak cukup untuk paling sedikitnya haid serta paling sedikitnya suci) maka dihukumi darah haid.
          Apabila seorang wanita mengeluarkan darah beberapa hari yang sebagian sebelum waktunya bisa haid, dan yang sebagian lagi setelah waktunya bisa haid, maka darah yang pertama dihukumi darah istiha-dlah, dan darah yang akhir dihukumi darah haid.

Suatu Contoh
          Sorang anak wanita cukupnya umur 9 tahun masih kurang 20 hari dan malam, lalu ia mengeluarkan darah lagi lamanya 10 hari dan malam, maka darah yang pertama selama 4 hari dan malam lebih sedi-kit, dihukumi darah istihadlah, karena kurangnya dari cukup umur 9 tahun masih cukup untuk haid serta suci.
          Adapun darah yang tertinggal, yang lamanya 6 hari dan malam, kurang sedikit, dihukumi darah haid, karena kurangnya dari cukup u-mur 9 tahun sudah tidak cukup untuk haid serta suci (Hasyiyah al-Jamal ala Syarhi al-Minhaj: 1/236).

Lamanya Waktu Haid dan Sucinya
          Seorang wanita mengeluarkan darah yang dihukumi haid adalah sekurang-kurangnya masa sehari semalam atau 24 jam, baik selama 24 jam itu darah keluar terus menerus, atau terputus-putus selama 15 hari dan malam. Yakni suatu tempo keluar darah di tempo lain putus darah, yang seandainya mengeluarkan darahnya itu terjumlah cukup 24 jam, hal ini dihukumi darah haid, asalkan semuanya itu masih didalam 15 hari dan malam.
          Sehingga, apabila darah yang keluar jumlahnya tidak cukup 24 jam, tidaklah dihukumi darah haid, melainkan dihukumi darah istiha-dlat (Minhaju al-Qawim: 29 dan Abyanal Hawaij: 11/268).
          Bahwa yang dimaksud dengan bil ittishal atau terus menerus yaitu seumpama kapuk kapas dimasukkan ke dalam kemaluan wanita, masih adanya darah itu, masih dihukumi mengeluarkan darah, sekalipun darah tidak sampai ke luar ke tempat yang wajib dibasuh ketika istinja’ (ber-suci). Hasyiyah Al Turmusi ala al Minhaju al-Qawim: 1/538).
          Adapun sebanyak-banyaknya seorang wanita mengeluarkan darah haid adalah 15 hari dan 15 malam.
          Pada kebiasaanya, mengeluarkan darah haid selama 6 atau 7 hari dan malam. Semuanya ini berdasarkan hasil penelitian Imam Syafi’i Ra kepada wanita Arab di Timut Tengah. Adapun paling lamanya seorang wanita mengeluarkan darah haid adalah 15 hari dan malam (Al Minhaju al-Qawim: 29).
          Dan sekurang-kurangnya suci yang memisahkan antara satu haid dengan haid yang lain ialah 15 hari dan 15 malam. Adapaun sebanyak-banyaknya suci tidak ada batasnya, bahkan kadang sudah tidak keluar darah haid lagi, karena usia atau keadaan. Dan pada kebiasaannya suci tersebut meliha kepada kebiasaannya haid. Apabila haidnya enam hari, maka sucinya adalah 24 hari, dan apabila haidnya itu tujuh hari, maka sucinya adalah 23 hari (Qutu al-Habib: 44).

Masalah-Masalah
          Darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita yang sedang ha-mil adalah termasuk darah haid, apabila lamanya sehari semalam serta tidak lebih dari 15 hari dan malamnya, dan mengeluarkan darah tersebut sebelum melahirkan anak (Fathul Wahhab: 1/27).
          Seorang wanita ketika mengeluarkan darah haid dengan terputus putus, semuanya dihukumi haid, baik ketika mengeluarkan darah atau ketika putus yang ada sela-selanya itu.

Ketahuilah!
          Seorang wanita, sama saja Mubtadi’at (baru sekali mengeluarkan darah) atau Mu’tadat (yang sudah pernah haid dan suci), dihukumi haid (haram melaksanakan perkara yang diharamkan kepada orang yang haid), sebab hanya mengeluarkan darah). Kemudian kalau darah terse-but ternyata putus sebelum cukup sehari semalam, maka hukumnya bukan darah haid, sehingga ia diwajibkan mengqadla shalat yang di tinggalkan selama mengeluarkan darah tersebut. Dan apabila darah itu sampai cukup sehari semalam, maka tentunya dihukumi darah haid (Hasyiyah Al Syarqawi ‘ala al-Tahrir: 1/152)

http://fiqhperempuan.blogspot.com/

More aboutpermasalahan haid (menstruasi ) pada wanita

Cara sholat bagi wanita yang istikhadhoh

Diposkan oleh Bany adam


Kaifiyat Shalat Mustahadlat dan Beser
          Bahwa istihadlat tidak sama hukumnya dengan haid atau nifas. Istihadlat itu termasuk bagian hadas kecil yang sifatnya terus-menerus seperti beser air seni atau beser air madzi. Maka mustahadlat tetap di-wajibkan shalat fardlu dan puasa Ramadlan, dan tidaklah diharamkan membaca al-Qur’an, bersetubuh dan lain-lain (Syarhu al-Minhaj pada Ha-misy Hasyiyah al Jamal: 1/242).
          Oleh karena Mustahadlat dan orang yang beser itu terus-menerus mengeluarkan hadas dan najis, maka ketika akan mendirikan shalat, ia hendaklah lebih dulu mensucikan kemaluannya lalu di sumbat dengan kapuk atau kain sekiranya tidak sakit dan ketika tidak mengerjakan puasa Ramadlan.
          Apabila darahnya masih terus mengalir keluar di permukaan sumbatan, maka ia diwajibkan membalut. Apabila karena banyaknya darah, hingga tetap keluar ke permukaan pembalut, maka dimaafkan. Dan apabila ia sedang mengerjakan puasa, hendaklah supaya membuat pembalut saja, karena menyumbat itu menyebabkan batal puasanya (Minhajul Qawim: 30, dan Fathul Wahab pada Hamisy Hasyiyah Al-Jamal: 1/242).
          Setelah dibalut, lalu wudlu dengan niat sepaya diperkenankan mengerjakan shalat fardlu. Bukan niat karena menghilangkan hadas     atau niat bersuci dari hadas (Fathul Wahhab pada Hamisy Hasyiyah Sulaiman al-Jamal:1/105).
          Sejak mulai mensucikan kemaluan hingga wudlu, wajib dilakukan setiap akan mengerjakan shalat fardlu dan setelah masuk waktu shalat.  Semua pekerjaan, mulai dari mensucikan kemaluan hingga shalat far-dlu, wajib dilaksanakan dengan segera. Maka apabila sesudah wudlu lalu berhenti lebih dulu, karena keperluan selain maslahatnya shalat, seperti makan, minum dan lain-lain, maka ia diwajibkan kembali mensucikan kemaluan dan seterusnya. Namun apabila berhentinya karena untuk kemaslahatan shalat, seperti menutup aurat, menjawab muadzin, me-nunggu jamaah, menunggu shalat Jum’at dan lain-lain, maka hal itu diperkenankan Syara’ (tidak perlu kembali bersuci lagi).
          Orang yang beser mani, ia diwajibkan mandi setiap akan menger-jakan shalat fardlu dengan niat supaya diperkenankan mengerjakan shalat fardlu. Tidak diperkenankan niat menghilangkan hadas atau niat bersuci dari hadas.
          Bagi orang yang hadasnya, seumpama untuk shalat, bisa dengan duduk, lalu hadasnya bisa berhenti,  maka ia diwajibkan shalat dengan duduk. Nanti setelah sembuh tidak perlu mengqadla shalatnya (Minhaj al-Qawim: 30).

Suatu Masalah
          Bahwa wudlunya orang Da’aimul Hadats, yaitu orang yang terus-menerus berhadas, seperti orang yang beser dan mustahadlat, seluruh tubuhnya di syaratkan suci dari najis atau tidak? Jawabnya para ulama berbeda pendapat. Yang pertama mensyaratkan seleruh tubuh harus suci dari  najis. Yang kedua, tidak mensyaratkan harus suci tubuhnya dari  najis (Hasyiyah al-Jamal ala Syarhi al-Minhaj: 1/242).

Peringatan!
          Bagi seorang yang istihadlat dan orang beser, yang kebiasannya, pada akhir shalat ada berhentinya yang cukup untuk wudlu dan shalat, maka di dalam mengerjakan shalat wajib diakhirkan (Hasyiyah Al-Jamal ala Syarhi al-Minhaj: 1/245).
          Bagi orang yang beser, sah menjadi imam shalat, sekalipun, mak-mum tidak beser. Dan bagi orang istihadlat yang selain mutahayyirat, juga sah menjadi imam shalat, walaupun si makmum tidak istihadlat. Adapun orang istihadlat yang mutahayyirat tidak sah menjadi imam shalat, sekalipun makmumnya sama-sama mustahadlat mutahayyirat (Mughnil Muhtaj: 1/241).
More aboutCara sholat bagi wanita yang istikhadhoh

Aneka Macam Darah pada perempuan atau wanita

Diposkan oleh Bany adam


          Faidah untuk mengetahui hukum-hukum istihadlat yang akan dibicarakan, maka harus lebih dahulu mengetahui, bahwa darah itu ada yang kuat (warnanya tua) dan ada yang lemah (warnanya muda). Untuk mengetahui perbedaan antara darah yang kuat dengan darah yang le-mah, harus mengetahui warna-warnanya, rupa-rupa dan sifat-sifatnya darah. Warnanya sebanyak 5 macam ialah:
1.  السواد   2. الخمرة   3.  الشقرة    4. الصفرة   5. الكدرة.
1.  Darah hitam,
2.  Darah merah,
3.  Darah merah semu kuning,
4.  Darah kuning,
5.  Darah keruh.
          Darah hitam lebih kuat dari pada darah merah, darah merah lebih kuat dari pada darah merah semu kuning, darah merah semu kuning   lebih kuat dari pada darah kuning, darah kuning lebih kuat dari pada darah keruh (Fathul Wahhab pada Hamisy Sulaiman al-Jamal: 1/247).




More aboutAneka Macam Darah pada perempuan atau wanita

Perkara Yang Diharamkan Bagi Wanita Haid dan Nifas

Diposkan oleh Bany adam



Perkara Yang Diharamkan Bagi Wanita Haid dan Nifas
          Seorang wanita yang sedang haid atau nifas, diharamkan menger-jakan 11 perkara, yaitu sebagai berikut:
1.  Mengerjakan shalat fardlu maupun shalat sunnah,
2.  Mengerjakan thawaf di Baitullah Makkah, baik thawaf rukun, thawaf wajib atau thawaf sunnah.
3.  Mengerjakan rukun-rukun khutbah Jum’at
4.  Menyentuh lembaran al-Qur’an Apalagi kitab al-Qur’an
5.  Membawa lembaran al-Qur’an. Apalagi kitab al-Qur’an.
6.  Membaca ayat al-Qur’an, kecuali karena mengharap barakah, seperti membaca Bismillahirrahmaanirrahiim, memulai pekerjaan yang baik, Alhamdulilahi Rabbil ‘Alamiin, karena bersyukur dan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilaihi Raaji’uun karena terkena musibah.
7.  Berdiam diri di dalam masjid, sekiranya dikhawatikan darahnya tertetes didalamnya.
8.  Mundar mandir didalam masjid, sekiranya dikahawatirkan darah-nya tertetes didalamnya.
9.  Mengerjakan puasa Ramadlan, tetapi diwajibkan qadla. Adapun shalat tidak diwajibkan qadla.
10.  Meminta cerai kepada suaminya, atau sebaliknya.
11.  Melakukan Istimta’, bersenang-senang suami istri dengan pertemuan kulit antara pusar sampai dengan kedua lutut,  baik bersyahwat atau tidak. Apalagi bersetubuh, meskipun kemaluannya lelaki di bungkus dengan kain, hukumnya jelas haram dosa besar.

          Apabila haid atau nifas sudah berhenti, tetapi belum mandi, maka larangan 11 perkara ini tetap berlaku, kecuali puasa dan thalaq (Mahali serta Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/100 dan Abyanal Hawaij: 11/269-270).

Suatu Faidah
          Dikatakan oleh ulama Fuqaha: bahwa suami yang menyetubuhi istrinya sebelum mandi, baik istrinya masih dalam keadaan haid atau sudah berhenti akan mengakibatkan  terkena penyakit lepra (buduken: Jawa) terhadap anaknya (Hasyiyah Al-Qalyubi: 1/110).

          Seseorang yang haid atau nifas nanti setelah berhenti, diwajibkan mengqadla puasa Ramadlan yang ditinggalkan, dan tidak wajib mengqa-dla shalat fardlu secara Ijma’ dalam keduanya, karena kesukaran di dalam qadla shalat ank arena berulang-ulangnya shalat. Tidak demi-kian halnya qadla puasa (Al-Mihajul Qawim serta Hasyiyah Al-Turmu-si:1/548 dan Husnul Mathalib: 70).
          Hukum-hukum yang berpautan dengan haid, ada 20 perkara, 12 berupa hukum haram, yaitu:
1.  Mengerjakan shalat,
2.  Melakukan sujud tilawah (bacaan dalam al-Qur’an), sujud syukur,
3.  Melakukan thawaf rukun, wajib, atau sunnah,
4.  Mengerjakan puasa wajib maupun sunnah,
5.  Melakukan I’tikaf di dalam masjid,
6.  Memasuki masjid sekira kuatir akan tetesnya darah haid,
7.  Membaca al-Qur.an.
8.  Menyentuh al-Qur’an.
9.  Menulis al-Qur’an menurut sebagian ulama,
Sembilan perkara ini yang diharamkan bagi seorang wanita yang sedang haid. Adapun yang tiga selanjutnya, diharamkan bagi lelaki suaminya, yaitu:
10.  Melakukan persetubuhan
11.  Menceraikan istrinya dalam keadaan haid
12.  Melakukan istimta’, atau besenang-senang dengan cara memper-mukan kulit antara pusar sampai dengan lutut istrinya dengan selain bersetubuh.
          Adapun delapan perkara yang lain tidak berupa hukum haram ialah sebagai berikut:
1.  Usia balig karena haid
2.  Kewajiban mandi, setelah haidnya berhenti
3.  Melaksanakan Iddat, apabila cerai atau suaminya meninggal
4.  Istibra’ atau menunggu seorang wanita amat yang baru dimiliki
5.  Bersihnya kandungan bayi
6.  Diterima ucapannya apabila wanita itu sudah haid
7.  Gugurnya kewajiban shalat ketika keluar darah haid
8.  Gugurnya thawaf wada’ ketika dalam keadaan haid.
(Hasyiyah Al-jamal ala Syarhi Al-Minhaj: 1/227)
Ri’ayatul Himmah: 1/152 153).

Peringatan!
          Berhubungan dengan orang yang mempunyai hadas besar, dibo-lehkan membaca zikir yang diambil dari al-Qur’an, seperti ketika makan atau minum membaca lafadl
لبسم الله الرحمن الرحيم
“Dengan menyebut nama Allah Tuhan
 Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”.
Ketika menerima nikmat dari Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa lalu membaca lafad
الحمد لله رب العالمين
“Segala puji bagi Allah seru sekalian alam semesta”.
          Ketika naik kendaraan membaca bacaan al-Qur’an dengan harapan semoga selamat dengan lafad
سبحان الـذى سخر لنـا هـذا ومـا كنالـه مقـرنــين,  وإنـا إلى ربنـا لمنقـلبـون
“Maha Suci Dzat yang telah menundukkan
 semua ini bagi kami sebelumnya tidak mampu mengasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami,. Sesungguhnya yang mewajibkan kepadamu Alqur’an, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali”.
Ketika mendapat musibah atau cobaan sabar dan ridla dengan mengucapkan lafad:
إنـالله وإنـا إليه راجعون
Sesungguhnya kami kepunyaan Allah, dan sesungguhnya
 kepada Allah lah tempat kami kembali.
(Al-Iqna’ pada Hamisy Hasyiyah Al-Bujarami:1/315 dan Abyanal Hawaij: 11/269).
http://fiqhperempuan.blogspot.com/2012/09/perkara-yang-diharamkan-bagi-wanita.html
More aboutPerkara Yang Diharamkan Bagi Wanita Haid dan Nifas

Perkara yang mencegah wajibnya shalat

Diposkan oleh Bany adam


Masalah Datang dan Hilangnya Mani’-Perkara yang mencegah wajibnya shalat, oleh para ulama ahli fiqih dinamakan dengan  Maani’. Bahwa Manik’,  jumlahnya ada tujuh macam ialah sebagai berikut:
1   Haid  (2) nifas  (3) Kufur asli  (4) Sifat anak (5) Sakit gila (6) Epilepsi (7) Mabuk. Manik-manik yang jumlahnya tujuh macam itu yang lima dapat berulang kembali, seperti: (1) Haid  (2) Nifas (3) Sakit gila (4) Epilepsi (5) Mabuk. Adapun kufur asli dan sifat anak, tidak bisa kembali lagi.
          Apabila salah satu manik dari manik-manik itu datang setelah masuk waktu shalat, dengan tenggang waktu yang sekiranya cukup untuk mengerjakan shalat (bagi orang yang sehat), atau cukup untuk mengerjakan shalat dengan bersucinya bagi orang yang kekal hadasnya, atau orang yang tayamum, maka setelah hilangnya manik-manik, ia kewajiban mengqadla  shalat waktu datangnya  manik–manik  itu saja. Tidak kewajiban mengqadla shalat waktu sebelumnya. Atau setelah datangnya manik-manik walaupun boleh di jama’ dengan shalat waktu datangnya manik-manik tersebut (Mirqatus Su’ud: 17, Hasyiyah Al-Kurdi Ala Al-Minhajul Qawim: 1/138).
          Contohnya: Manik haid atau gila datang jam satu siang sebelum mengerjakan shalat Dluhur, maka wanita yang bersangkutan kewajiban mengqadla shalat Dhuhur saja. Tidak kewajiban mengqadla shalat Shu-buh atau shalat Asharnya. Apabila haid atau gila datang jam empat sore, sebelum mengerjakan shalat Ashar, maka besok ia kewajiban qadla shalat Ashar saja. Tidak kewajiban mengqadla shalat Dhuhur atau shalat Maghribnya.
          Jadi masalah datangnya haid, nifas, gila, ank are dan mabuk, yang dalam istilah fiqih disebut Jaa’al Maani’, dalam mengqadla shalat tidak dengan bertalian pada shalat sebelumnya, atau shalat yang sesudahnya.
Peringatan!
          Masalah Jaa’al Maani’ ternyata banyak yang salah faham, sehing ga sebagian orang ada yang mewajibkan qadla shalat sebelum datang-nya manik. Dan sebagian orang, ada lagi yang mewajibkan qadla shalat waktu setelah datangnya manik.
          Sebenarnya masalah Jaa’al Maani’, yang dalam mengqadla shalat dapat mewajibkan berantai itu hanya untuk orang yang tidak sehat,    yaitu orang yang mempunyai dua manik atau dua halangan.
          Contohnya: Ada seorang gila mulai pagi hingga jam empat sore   baru sembuh. Setelah jam setengah lima sore, belum mengerjakan shalat, penyakit gilanya kambuh kembali. Yang demikian ini ia besuk diwajibkan mengqadla shalat Ashar dan shalat Dhuhurnya.  Atau ada orang sakit ayan sembuh pada jam sembilan malam. Pada jam sepuluh, sebelum mengerjakan shalat Isya’, ia kedatangan haid. Yang demikian inilah ia setelah sembuh diwajibkan mengqadla shalat Isya’ dan shalat Maghribnya (Fathul Wahhab serta Hasyiyat Al-Jamal: 1/294, Sulaiman Al-Kurdy “Ala Al-Minhaj Al-Qawim: 1/138.)
          Masalah hilangnya manik-manik yang menurut istilah dalam fiqih disebut Zaalal Maani’, atau Zawaalul Maani’aat,  ialah dalam mengetahui hukum-hukumnya harus lebih dahulu mengetahui shalat-shalat yang boleh di jama’ dan shalat-shalat yang tidak boleh di jama’ (dikumpulkan).
          Adapun shalat yang boleh di jama’ itu hanya shalat Dhuhur boleh di jama’ dengan shalat Ashar, dan shalat Maghrib boleh di jama’ dengan shalat Isya’. Shalat Shubuh tidak boleh di jama’ dengan shalat Isya’ atau shalat Dhuhur. Dan shalat Ashar tidak boleh di jama’ dengan shalat Maghrib (Al-Taqrib pada Hamisy Fathul Qarib: 17).
          Bagi seorang yang hilang manik-maniknya pada waktu Dhuhur, Maghrib atau Shubuh, tidak wajib mengqadla shalat yang sebelumnya, karena tidak boleh di jama’. Ia hanya kewajiban mengerjakan shalat waktu itu saja dengan adaa’, sekiranya masih cukup waktunya untuk bersuci dan mengerjakan shalat satu rekaat. Apabila waktunya sudah tidak cukup, maka shalatnya dikerjakan dengan qadla.
          Apabila hilangnya manik itu pada waktu Ashar atau waktu Isya’, sekalipun hanya waktu yang hanya cukup untuk mengucapkan lafad Takbir, Allaahu Akbar, maka ia kewajiban mengerjakan shalat waktu itu dengan adaa’, sekira waktunya masih cukup untuk besuci dan menger-jakan shalat satu rekaat. Apabila waktunya sudah tidak cukup, maka shalatnya dikerjakan dengan qadla, kecuali ia diwajibkan mengerjakan shalat waktu hilangnya manik-manik. Ia diwajibkan pula mengqadla shalat waktu yang sebelumnya, karena boleh di jama’ (Syarhu Al-Minhaj pada Hamisy Hasyiyah Al-Jamal: 1/279).
Contoh-Contoh
1.  Seorang  wanita berhenti haid pada jam satu  siang, maka ia diwajib-kan shalat Dhuhur saja dengan adaa’ (shalat tepat waktunya).
2.  Seorang wanita berhenti haid pada waktu Dhuhur tinggal setengah menit, maka ia diwajibkan shalat Dhuhur dengan qadla.
3.  Seorang wanita berhenti haid pada jam empat sore, maka ia diwa-jibkan shalat Ashar dengan adaa’ dan mengqadla shalat Dhuhur.
4.  Seorang wanita berhenti haid pada waktu Ashar hanya tinggal seteng-ah menit, maka ia diwajibkan shalat Ashar dan shalat Dhuhur dengan qadla keduanya.
More aboutPerkara yang mencegah wajibnya shalat

Pengertian darah nifas pada perempuan

Diposkan oleh Bany adam


  Definisi Nifas- Nifas menurut bahasa berarti melahirkan. Adapun menu-rut istilah Syara’, Nifas ialah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita setelah melahirkan (wiladah), dan sebelum melampui 15 hari dan malam dari lahirnya anak. Permulaan nifas itu dimulai dari keluarnya darah, bukan dari keluarnya anak.
           Darah yang keluar bersama bayi atau sebelum melahirkannya, tidak dihukumi darah nifas, tetapi termasuk darah istihadlat atau darah rusak (darah penyakit). (Fathul Qarib: 109, Bughiyatul Mustarsyidin: 22).
Dasar Hukum Nifas
          Masa kebiasaan seorang wanita atas keluarnya darah nifas adalah 40 hari, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummu Salamah, dimana ia berkata:
كانت النفساء على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم تقعدبعد نفاسها أربعين يوما او أربعين ليلة (رواه أبو داود والترمذى ).
“Pada masa Rasulullah Saw. Para wanita yang sedang menjalani masa nifas menahan diri selama empat puluh hari atau empat puluh malam.” (HR. Abu Da-wud dan Tirmidzi).
Para ulama dari kalangan sahabat Rasulullah Saw. dan para tabi’in    telah menempuh kesepakatan, bahwa wanita-wanita yang sedang men-jalani masa nifas harus meninggalkan shalat selama empat puluh hari. Apabila telah suci sebelum masa tersebut, maka hendaklah mandi dan mengerjakan shalat, demikian dikatakan oleh Imam Tirmidzi.
MASALAH DARAH NIFAS pada perempuan
More aboutPengertian darah nifas pada perempuan

Sifat-Sifat Darah pada wanita / perempuan

Diposkan oleh Bany adam on Jumat, 14 September 2012


Sifat-Sifat Darah pada wanita/perempuan
          Adapun sifat-sifat darah sebanyak empat macam ialah:
1.  Darah kental dan bau busuk
2.  Darah kental belaka
3.  Darah bau busuk
4.  Darah tidak kental dan tidak bau busuk.
          Darah kental lebih kuat dari pada darah cair, darah berbau busuk lebih kuat dari pada darah yang tidak berbau busuk, darah hitam kental lebih kuat dari pada darah hitam tidak kental, dan darah kental berbau busuk lebih kuat dari pada darah kental saja. atau berbau busuk saja (Fathul Wahhab pada Hamisy Sulaiman al-Jamal: 1/247).
          Apabila seorang wanita mengeluarkan darah dua yang sama sifat-nya, maka didahulukan darah yang keluar pertama, seperti darah hitam cair dan merah kental, darah hitam kental dan merah kental berbau dan seperti darah merah berbau busuk dan darah hitam tidak berbau busuk.
          Dan apabila sebagian darah mempunyai sifat yang menyebabkan kuat, dan sebagian lagi  juga mempunyai sifat yang menyebabkan kuat, maka yang dihukumi darah kuat ialah darah yang lebih banyak sifat-sifatnya yang menyebabkan kuat.

Contoh-Contoh
          Pertama, Darah hitam, kental dan berbau busuk lebih kuat dari pada darah hitam, kental dan tidak berbau, dan lebih kuat dari pada darah hitam, cair dan berbau busuk, dan lebih kuat dari pada darah merah, kental dan berbau busuk, karena darah yang nomor pertama (hitam, kental dan berbau busuk) adalah mempunyai sifat yang menye-babkan kuat jumlahnya ada tiga yaitu (1) Rupa atau warna (2) Kental (3)Berbau.
          Adapun darah yang kedua, ketiga dan keempat, hanyalah mempu-nyai sifat yang menyebabkan kuat karena  jumlahnya ada dua macam.
          Kedua, Darah merah, kental dan berbau busuk adalah lebih kuat dari pada darah hitam, cair dan tidak berbau busuk, lebih kuat dari pada merah, kental dan tidak berbau busuk, lebih kuat dari pada darah merah, cair dan berbau busuk, karena darah yang pertama (darah merah, kental dan berbau busuk) itu mempunyai sifat yang menyebab-kan kuat jumlahnya, karena  ada dua macam.
          Ketiga, Darah merah semu kuning, kental dan berbau busuk itu lebih kuat dari pada darah merah, cair dan tidak berbau busuk. Lebih kuat dari pada darah merah semu kuning, kental dan tidak berbau bu-suk, lebih kuat dari pada darah merah semu kuning, cair dan berbau busuk, karena darah yang pertama (darah merah semu kuning, kental dan berbau busuk itu mempunyai sifat yang menyebabkan hitungannya berjumlah dua.
          Adapun darah yang kedua, ketiga dan keempat hanya mempunyai sifat yang menyebabkan kuat jumlahnya hanya satu.
          Keempat, darah hitam, cair dan berbau busuk itu lebih kuat dari pada darah merah, kental dan tidak berbau busuk, lebih kuat dari pada darah merah, cair dan berbau busuk, karena darah yang pertama itu mempunyai sifat yang menyebabkan kuat cacahnya dua. Adapun darah selanjutnya, hanya mempunyai sifat yang menyebabkan kuat, jumlahnya satu.
          Kelima, Darah hitam, cair dan tidak berbau busuk itu lebih kuat dari pada darah merah, cair dan tidak berbau, darah merah, kental dan tidak berbau busuk, darah kuning, cair dan berbau busuk lebih kuat dari pada darah kuninga, cair dan tidak berbau busuk, karena tiap-tiqap darah yang pertama itu mempunyai satu sifat yang menyebabkan kuat. Adapun tiap-tiap darah yang kedua, tidak mempunyai sifat yang menye-babkan kuat sama sekali.
          Apabila cacahnya sifat yang menyebabkan kuat, yang dimiliki sebagian darah yang lain, maka yang dihukumi kuat adalah darah yang pertama kali keluarnya, seperti contoh di bawah ini:
          Pertama, Darah merah, kental dan berbau busuk dengan darah hitam, kental dan tidak berbau busuk, atau dengan darah hitam, cair dan berbau busuk, maka yang dihukumi kuat adalah darah yang per-tama  keluarnya, karena sifat yang  menyebabkan kuat yang dimiliki itu jumlahnya sama keduanya.
Kedua, Darah merah, cair dan tidak berbau busuk, dengan darah merah semu kuning, cair dan berbau busuk, maka yang dihukumi kuat ialah darah yang lebih dulu keluarnya, karena sifat yang menyebabkan kuat yang dimiliki itu sama dengan salah satunya.

Peringatan!
          Bahwa yang dikehendaki berupa lemah, hanya berupa lemah saja, tidak tercampur berupa kuat. Untuk itu apabila ada darah berupa lemah masih tercampur berupa kuat, itu termasuk golongan darah yang berupa kuat. Sebagai contoh: Darah merah terdapat garis-garis hitam itu di hukumi darah hitam, dan darah merah semu kuning terdapat garis-garisnya merah, itu dihukumi darah merah, demikian dan seterusnya (Tuhfah al-Muhtaj dengan Hasyiyah al-Syarwani: 1/402).



More aboutSifat-Sifat Darah pada wanita / perempuan